Warga negara Perancis ikut serta di JFC X


Hari ini (24/7) Jember Fashion Carnaval (JFC) edisi kesepuluh akan digelar secara besar-besaran di Alun-Alun Kota Jember. Festival kostum kelas dunia itu akan diikuti oleh 600 partisipan. Di antara mereka, ada warga asing, Patrice Desilles, yang rela menunda kepulangan ke Prancis demi mengikuti parade fashion bertema Eyes on Triumph tersebut.

Patrice Desilles baru saja bangun dari tidur saat matahari meninggi pada Sabtu (23/7). Pria asal Prancis itu semalam baru tiba di Jember dan langsung mengikuti general rehearsal (GR) untuk Jember Fashion Carnaval (JFC). ”Maaf, semalam saya tidur larut malam sekali. Masih banyak hal yang dikerjakan,” katanya, cukup fasih berbahasa Indonesia karena memang sudah lama tinggal di negeri ini.
Setelah berjalan, Patrice, begitu dia disapa, duduk di salah satu lobi hotel tempat dirinya menginap. Siang itu dia tampak santai meski matanya sembap, pertanda rasa kantuk yang masih hinggap. Itu merupakan kali kedua pria asal Rennes, Prancis, tersebut datang ke Jember. Kedatangan pertamanya tahun lalu, saat perhelatan JFC IX. ”Kali ini saya tak ingin menonton, tapi juga turut serta,” ujarnya.
Ya, kali ini Patrice akan ikut sebagai salah satu talent, tepatnya defile punk. ”I like punk, reminds me the good old days,” katanya. Dia memang menggemari band-band punk dan metal era ’70-an awal. Itulah yang kemudian menginspirasi dia untuk memilih punk sebagai defile pada JFC Show kali ini. ”Sex Pistols kan punya fashion designer sendiri. Viviane Westwood itu salah seorang desainer favorit saya,” terang dia.
Saat kecil Patrice sudah jatuh cinta terhadap karnaval. Di Prancis juga bertaburan banyak karnaval. Namun, menurut dia, JFC sangat berbeda. ”JFC kan merupakan karnaval kostum yang sangat multietnis. Tema tiap tahun juga berbeda,” papar Patrice. Selain itu, keikutsertaan anak-anak muda dalam karnaval di Jember sungguh menarik. Kondisi tersebut membuktikan bahwa JFC memang berkomitmen menjadi ajang kreativitas anak muda Indonesia.
Mata hijau Patrice berbinar saat menceritakan detail kostumnya. Meski tak ikut ambil bagian dalam penggarapan kostum, Patrice sangat bersemangat untuk segera memakai kostum tersebut. ”Yang membuat adalah salah seorang murid saya. Saya hanya bilang kepada dia apa yang saya suka. Setelah itu, dia berimajinasi sendiri,” imbuh dia. Hal tersebut dilakukan bukan karena Patrice malas. Melainkan, dia disibukkan dengan urusannya sebagai kepala sekolah dan padatnya waktu kerja.
Patrice di Indonesia berprofesi sebagai salah seorang dosen di sekolah mode Esmod Jakarta. Menurut dia, Jember sangat berpotensi untuk bisa menjadi kota fashion dunia. Menurut dia, kegiatan JFC sangat menarik karena bisa mengembangkan Jember sebagai salah satu kota yang berbasis kreatif. ”I think Jember will be great in the future,” ucap dia.
Keberadaan JFC diakui Patrice sangat positif karena mampu mengangkat nama Jember secara nasional. Selain itu, JFC menjadi ajang bagi para remaja untuk bisa berkarya dan berprestasi. ”JFC punya bakat-bakat muda yang luar biasa,” terang dia. Hal tersebut dibuktikan dengan perkembangan kostum dari tahun ke tahun yang semakin meningkat dari segi volume maupun konsep.
Komitmen JFC terhadap generasi muda dibuktikan lewat kerja sama dengan Esmod. Patrice menganggap mereka yang mendapat beasiswa dari Esmod sungguh beruntung. ”Mereka (peraih beasiswa, Red) akan diajari tentang development design and branding concept,” katanya. Dengan bekal semacam itu, bukan tidak mungkin sang talent bisa berkembang semakin baik.
Indonesia, sebagaimana Jember, dipandang Patrice memiliki identitas fashion yang sangat kuat. Melalui detail etnis dan aksesoris yang beragam, pakaian dan kostum di Indonesia bisa sangat semarak dan menarik. ”Contohnya saat ada acara pernikahan atau undangan. Warga Indonesia cenderung tampil wah dalam gaun. Di Prancis, sudah nggak ada yang semacam itu,” jelasnya.
Patrice berharap agar JFC bisa semakin berkembang dengan melakukan inovasi-inovasi baru. Misalnya, ditambahnya waktu acara karnaval selama 24 jam, diadakannya karnaval malam, serta disajikannya permainan kembang api jika perlu. ”Kalau perlu, pesertanya berasal dari seluruh Indonesia, bahkan dunia,” ucap dia. Impian tersebut memang tidak muluk-muluk, mengingat JFC kini sudah dikenal sebagai salah satu karnaval terheboh di dunia. Setara dengan Festival Rio di Brazil.
Hari sudah semakin siang saat Patrice memutuskan untuk berdiri. Hari itu dia ingin berkeliling Jember sembari membeli stocking. ”Untuk kostum saya besok (hari ini, Red),” jelasnya. Menurut salah seorang tamu kehormatan itu, JFC merupakan ajang karnaval yang tak boleh dilewatkan.
”I’m sure, in the future JFC will be the one of greatest carnival in the world,” sambung dia. JFC X Show kali ini memang menyimpan sejuta kejutan. Karnaval yang berawal dari sebuah gang kecil di sudut Jember itu kini sudah merangkak naik dan menuju pentas dunia.
Bertempat di Alun-Alun Kota Jember, acara yang diikuti lebih dari 600 partisipan tersebut akan dimulai pada pukul 12.00 dengan menempuh jarak 3,6 kilometer. Untuk pembuktian eksistensi selama satu dekade, acara itu akan digelar secara besar-besaran. ”Kami bekerja sama dengan banyak pihak kali ini. Antara lain, Yonif 515 Tanggul dan 509 Sukorejo, Jember,” kata Dynand Fariz, presiden JFC yang kini dikenal sebagai maestro karnaval tingkat dunia.
Para prajurit tersebut bakal secara khusus diiringi JFC Marching Band yang telah berlatih keras selama empat bulan terakhir. Fariz, sapaan akrab Dynand Fariz, mengungkapkan, akan ada sepuluh defile yang tampil pada JFC X hari ini. Sembilan di antara mereka merupakan defile terbaik dari JFC sebelumnya. ”Misalnya, defile punk yang dulu hanya menggunakan celana robek, rambut mohawk. Kini semua berubah menjadi lebih bervolume dan liar,” ucap dia dengan mantap.
Secara berurutan, defile royal kingdom yang bertema kostum raja-raja dari Inggris berada di barisan depan. Lalu, ada defile punk yang terinspirasi gerakan perlawanan kaum muda era ’60-an yang eksis hingga kini. ”Defile India dipilih saat dulu ramai film-film Bollywood,” jelas Fariz. Juga ada defile Athena yang menggambarkan peradaban Yunani dan dewa-dewanya.
Ada pula defile tsunami, yang merupakan tribute (penghormatan) JFC kepada korban bencana Aceh, lewat kostum yang menginspirasi kebangkitan dari laut. ”Defile Bali yang terinspirasi oleh eksotisme Pulau Dewata dan Garuda Wisnu Kencana,” kata Fariz. Defile Borneo terinspirasi keindahan dan belantara hutan Kalimantan yang indah. Defile roots terinspirasi bahan-bahan alami berupa akar dan tanah.
Lalu, ada defile animal plant yang dibuat kostum untuk penghargaan terhadap tumbuhan dan hewan-hewan langka. Juga, defile butterfly yang mengangkat tema mistis dan kegelapan sebagai bagian dari totalitas JFC dalam berkarya. ”Seluruh defile itu sama sekali baru dan akan sangat berbeda dengan kostum terdahulu,” tegas Fariz.
Selain sepuluh defile yang akan tampil tersebut, ada defile ”bayangan”, seperti guest arrival dan JFC Kids. Sebanyak 12 model profesional juga akan tampil khusus dalam defile royal kingdom. ”Termasuk defile yang diikuti talent asal Prancis, yang juga merupakan tamu kehormatan kami,” ucap dia.
Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 

© Copyright Download Gratis Sampai Kapanpun 2011-2012 | Design by Blogku | Support by Bagus International Corporation